Minggu, 02 Februari 2014

Hakikat Hidup

CARA MENGENAL ALLAH
 
 Syeikh Ahmad Arifin berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat dikenal dan hanya yang tidak ada yang tidak dapat dikenal. Karena Allah adalah zat yang wajib al-wujud yaitu zat yang wajib adanya, tentulah Allah dapat dikenal, dan kewajiban pertama bagi setiap muslim adalah terlebih dahulu mengenal kepada yang disembahnya, barulah ia berbuat ibadah sebagimana sabda Nabi :
أَوَلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ
Artinya: “Pertama sekali di dalam agama ialah mengenal Allah
Kenallah dirimu, sebagaimana sabda Nabi SAW
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.
            Lalu diri mana yang wajib kita kenal? Sungguhnya diri kita terbagi dua sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 20 :
وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً وَبَاطِنَةً
Artinya : Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.
Jadi berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya terbagi dua:
1.      Diri Zahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan dapat diraba oleh tangan.
2.      Diri batin yaitu yang tidak dapat dipandang oleh mata dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan oleh mata hati. Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusia
Karena sedemikian pentingnya peran diri yang batin ini di dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri)  sebagimana firman Allah dalam surat az-Zariat ayat 21:
وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya : Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya disebabkan karena di dalam diri manusia itu Allah telah menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan rahasia-Nya sebagaimana sabda Nabi di dalam Hadis Qudsi :
بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)
Artinya: “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”. (Hadis Qudsi)
Bagaimanakah maksud hadis ini? Tanyalah kepada ahlinya, yaitu ahli zikir, sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahal ayat 43 :
فَاسَئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Tanyalah kepada ahli zikrullah (Ahlus Shufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.”
            Karena Allah itu ghaib, maka perkara ini termasuk perkara yang dilarang untuk menyampaikannya dan haram pula dipaparkan kepada yang bukan ahlinya (orang awam), seabagimana dikatakan para sufi:
وَلِلَّهِ مَحَارِمٌ فَلاَ تَهْتَكُوْهَا
Artinya: “Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang diharamkan membukakannya kepada yang bukan ahlinyah”.
Nabi juga ada bersabda :
وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ  
Artinya: “Telah memberikan kepadaku oleh Rasulullah SAW dua cangkir yang berisikan ilmu pengetahuan, satu daripadanya akan saya tebarkan kepada kamu. Akan tetapi yang lainnya bila saya tebarkan akan terputuslah sekalian ilmu pengetahuan dengan memberikan isyarat kepada lehernya.
اَفَاتُ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ وَاِضَاعَتُهُ اَنْ تَحَدَّثْ بِهِ غَيْرِ اَهْلِهِ
Artinya : “Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan ahlinya.”
            Adapun tentang Ilmu Fiqih atau Syariat Nabi bersabda:
بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ اَيَةً
Artinya: “Sampaikanlah oleh kamu walau satu ayat saja”.
            Adapun Ilmu Fiqih tidak boleh disembunyikan, sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا لِجَمِّهِ اللهِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Barangsiapa yang telah menyembunyikan suatu ilmu pengetahuan (ilmu syariat) akan dikekang oleh Allah ia kelak dengan api neraka”.
            Adapun ilmu hakikat atau ilmu batin memang tidak boleh disiar-siarkan kecuali kepada orang yang menginginkannya. Memberikan dan mengajarkan ilmu hakikat kepada yang bukan ahlinya ditakuti jadi fitnah disebabkan pemikiran otak sebahagian manusia ini tidak sampai mendalami ke lubuk dasarnya yaitu ilmu Allah Ta’ala. Ibarat kayu di hutan tidak sama tingginya, air di laut tidak sama dalamnya, dan tanah di bumi tidak sama ratanya, demikian halnya dengan manusia. Maka ahli Zikir (ahlus Shufi) inilah yang mendekati maqam wali-wali Allah yang berada di bawah martabat para nabi dan rasul. Inilah makna tujuan Allah memerintahkan supaya bertanya kepada ahli Zikir, karena ahli Zikir adalah orang-orang yang senantiasa hati dan pikirannya selalu ingat kepada Allah serta senantiasa mendapat bimbingan ilham dari Allah SWT.
            Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah, maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang hal ini Abu Ali ats-Tsaqafi bertaka, “seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang syeikh yang melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
            Namun tidaklah ilmu pengenalah kepada Allah ini diperoleh dengan mudah begitu saja seperti mempelajari ilmu syari’at, karena ada satu syarat yang paling utama yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu mengambil ilmu ini dengan dibai’at oleh seorang mursyid yang kamil mukamil yang masuk dalam rantai silsilah para syeikh tarekat sufi yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah SAW. Oleh karena itu jalan satu-satunya bagi kita untuk dapat mengenal Allah adalah dengan mempelajari ilmu tarekat di bawah bimbingan seorang mursyid.

Tanya : Mengapa hati memegang peran penting di dalam mengenal Allah?
Jawab : Bila kita sebut nama hati, maka hati yang dimaksud di sini bukanlah hati yang merah tua seperti hati ayam yang ada di sebelah kiri yang dekat jantung kita itu. Tetapi hati ini adalah alam ghaib yang tak dapat dilihat oleh mata dan alat panca indra karena ia termasuk alam ghaib (bersifat rohani). Tiap-tiap diri manusia memiliki hati sanubari, baik manusia awam maupun manusia wali, begituja para nabi dan rasul. Pada hati sanubari ini terdapat sifat-sifat jahat (penyakit hati), seperti : hasad, dengki, loba, tamak, rakus, pemarah, bengis, takbur, ria, ujub, sombong, dan lain-lain. Tetapi bilamana ia bersungguh-sungguh di dalam tarekatnya di bawah bimbingan mursyidnya, maka lambat laun hati yang kotor dan berpenyakit tadi akan bertukar bentuknya dari rupa yang hitam gelap pekat menjadi bersih putih dengan mengikuti kegiatan suluk atau khalwat secara kontinyu. Manakala hati yang hitam tadi telah berubah menjadi putih bersih, barulah ia memberikan sinar. Hati yang putih bersih bersinar itulah yang dinamakan hati Rohani (Qalbu)atau disebut juga dengan diri yang batin.
            Seumpama kita bercermin di depan kaca, maka kita tidak akan dapat melihat apa yang ada dibalik cermin selain muka kita, karena terhalang oleh cat merah yang melekat disebaliknya. Tetapi bila cat merah itu kita kikis habis, maka akan tampaklah di sebaliknya bermacam-macam dan berlapis-lapis cermin hingga sampai menembus ke alam Nur, alam Jabarut, alam Lahut, hingga alam Hadrat Hak Allah Ta’ala.
            Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas mengenal hati sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja, sebab ditahan oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti: takabbur, ria, ujub, dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah itu telah terkikis habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih tinggi dan mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan hakikatnya dan juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan Tuhannya. Itulah sebabnya para wali-wali Allah itu lahir dari para sufi yaitu orang-orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan qudrat dan iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal diri untuk jalan mengenal Allah.


ILMU HATI (ILMU TAREKAT)

Hati memegang peranan penting bagi manusia. Baik dan buruknya seseorang ditentukan oleh hati sebagaimana Hadis Nabi:
...اَلاَوَاِنَّ فِى الْجَسَدِ مُدْغَةً اِذَاصَلُحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَاِذَافَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ آلآوَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal darah, bila ia telah baik maka baiklah sekalian badan.Dan bila ia rusak, maka rusaklah sekalian badan. Dan bila ia rusak maka binasalah sekalian badan, itulah yang dikatakan hati”.

Demikianlah pentingnya peranan hati bagi manusia, oleh sebab itu manusia wajib menjaga kesucian hatinya. Adapun yang menjadi penyebab kotornya hati manusia itu adalah disebabkan berbagai penyakit yang terdapat padanya sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah:
فِى قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ
“Di dalam hati mereka ada penyakit”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)

Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin terdapat 6666 ayat Al-Qur’an dan 6666 urat di dalam tubuh manusia, demikian halnya dengan hati manusia, ada 6666 penyakit di dalam hati manusia. Dari sekian banyak penyakit yang ada di dalam hati manusia, ada beberapa penyakit hati yang paling berbahaya, di antaranya: hawa nafsu, cinta dunia, loba, tamak, rakus, pemarah, pengiri, dendam, hasad, munafiq, ria, ujub, takabbur. Jadi bila tidak diobati, maka sambungan ayat mengatakan:
فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا
“Lalu ditambah Allah penyakitnya”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)
            Demikianlah bahayanya apabila manusia itu tidak segera membersihkan hatinya, maka Allah akan terus menambah penyakitnya. Oleh sebab itu kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu ia harus mensucikan hatinya sebagaimana firman Allah:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّ
“Beruntunglah orang yang mensucikan hatinya dan mengingat Tuhan-Nya, maka didirikannya sembanhyang”. (Q.S. 87 Al-A’la: 14-15)
            Dari penjelasan surah Al-A’la di ayat 14 dan 15 di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada tiga kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada manusia:
1. Kewajiban Mensucikan Hati
            Di dalam surah Al-A’la ayat 14 Allah menyatakan bahwa orang-orang yang telah mensucikan hatinya sesungguhnya telah memperoleh keberuntungan. Lalu dibenak kita timbul beberapa pertanyaan:
-          Apa yang dimaksud dengan hati yang bersih?
-          Bagaimana cara membersihkan hati?
-          Mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung?
-          Apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya?
Pertama, apa yang dimaksud dengan hati yang bersih? Menurut Syekh Muda ahmad Arifin yang dimaksud dengan hati yang bersih yaitu tidak ada di dalam hati itu selain Allah. Artinya seseorang yang disebut hatinya bersih adalah orang yang senantiasa selalu mengingat Allah. Itulah sebabnya para sufi berkata:
قَلْبُ الْمُؤْمِنِيْنَ بَيْتُ اللهُ
“Hati orang mukmin itu adalah rumah Allah”.
            Kedua, bagaimana cara membersihkan hati? Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin satu-satunya cara membersihkan hati yaitu dengan mempelajari ilmu hati. Ilmu hati ini lazim disebut dengan beberapa nama di antaranya: ilmu batin, ilmu hakikat, ilmu tarekat. Menurutnya tujuan mempelajari ilmu hati adalah untuk mengenal Allah, sebab hati merupakan sarana yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dapat menyaksikan-Nya sebagaimana firman Allah:
مَاكَذَبَ الْفُؤَادُ مَارَآى
“Tidak dusta apa yang telah dilihat oleh mata hati”. (Q.S. An-Najm: 11)
            Jadi hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita baru dapat mengenal Allah. Apabila kita telah dapat mengenal Allah, barulah kita dapat mengingat-Nya. Dan mengingat Allah merupakan satu-satunya cara untuk membersihkan hati sebagaimana Hadis Nabi:
لِكُلِّ شَيْءٍ صَقَلَةٌ وَصَقَلَةُ الْقَلْبُ ذِكْرُاللهُ
“Segala sesuatu ada alat pembersihnya dan alat pembersih hati yaitu mengingat Allah”.
            Ketiga, mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang beruntung? Menurut Syekh Ahmad Arifin penyebab Allah menyebut orang-orang yang telah mensucikan hatinya sebagai orang-orang yang beruntung adalah disebabkan karena sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah. Menurut al-Ghazali hati manusia berfungsi sebagai cermin yang hanya bisa menangkap cahaya ghaib (Allah) apabila tida tertutup oleh kotoran-kotoran keduniaan. Sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung.
            Keempat, apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya? Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya adalah dapat mengenal Tuhannya. Itulah sebabnya Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا
“Beruntunglah orang yang telah mensucikan hatinya dan merugilah orang yang telah mengotorinya”. (Q.S. 91 As-Syamsi: 9-10)
            Itulah sebabnya pada ayat di atas Allah memuji orang-orang yang telah mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinya yang dapat mengenal Allah. Adapun orang-orang yang mengotorinya adalah orang-orang yang merugi, karena sesungguhnya orang-orang yang hatinya kotor tidak akan pernah dapat mengenal Tuhannya.
2. Kewajiban Mengingat Allah
            Kewajiban yang kedua adalah mengingat Allah, sebab mustahil kita dapat mengingat Allah kalau kita belum mengenal-Nya dan mustahil kita dapat mengenal-Nya kalau kita belum pernah berjumpa. Dan mustahil kita dapat berjumpa dengan Allah tanpa terlebih dahulu menyertakan diri dan belajar kepada orang yang telah dapat beserta Allah. Itulah sebabnya Nabi memerinthakan kepada kita agar menyertakan diri kepada orang yang telah serta Allah sebagaimana sabda Nabi:
كُنْ مَعَ اللهُ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ
“Sertakanlah kepada Allah, apabila kamu tidak dapat beserta Allah maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan mengenalkan kamu kepada Allah”.
            Berdasarkan Hadis di atas, maka kewajiban pertama bagi manusia adalah mencari guru (wasilah) agar ia dapat memperoleh pengenalan kepada Tuhannya. Setelah manusia itu dapat mengenal Allah maka kewajiban kedua baginya adalah mengingat Tuhan-Nya.
3. Kewajiban Mengerjakan Shalat
            Shalat merupakan tiang agama yang dilaksanakan apabila kita telah melaksanakan kewajiban pertama dan kedua, sebab tujuan shalat adalah untuk mengingat-Nya sebagaimana firman Allah:
اِنَّنِى أَنَااللهُ لاَإِلَهَ اِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِى وَأَقِمِ الصَّلَوةَ لَذِكْرِى
“Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. 20 Thaha: 14)
            Firman Allah di atas senada dengan firman Allah pada surat Al-A’la ayat 14 dan 15 yang telah diuraikan sebelumnya. Untuk mengetahui secara jelas persamaan makna yang terdapat pada kedua ayat tersebut penulis akan menguraikan kalimat perkalimat pada surat Thaha ayat 14 serta membandingkannya dengan surat Al-A’la ayat 14.
            Pertama, pada bagian awal surat Thaha ayat 14 Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Allah”. Bila kita menganalisis firman Allah tersebut maka dapatlah kita ketahui bahwa sesungguhnya Allah itu ingin dikenal. Firman Allah pada surat Thaha tersebut senada dengan firman Allah pada surat Al-A’la ayat 14: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan hatinya”. Makna beruntung pada ayat ini adalah bahwa keuntungan yang diperoleh oleh orang-orang yang mensucikan hatinya adalah dapat mengenal Allah. Bahkan bila kita analisis lebih jauh selain memiliki persamaan makna, kedua ayat tersebut juga memiliki kaitan di mana ayat yang satu berfungsi sebagai penjelas bagi yang lain. Pada surah Thaha Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Allah”. Ayat tersebut mengintruksikan kepada manusia kewajiban untuk mengenal Allah. Pada surah al-A’la ayat 14 Allah berfirman: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan hatinya”. Pada ayat ini Allah memuji orang-orang yang mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan merekalah yang dinyatakan Allah sebagai orang-orang yang beruntung. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa firman Allah pada surat Thaha ayat 14 keduanya mengindikasikan bahwa kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu mensucikan hatinya agar ia dapat mengenal Tuhannya.
            Kedua, pada bagian tengah surat Thaha Allah berfirman: “Tiada Tuhan selain Aku”. Bila kita analisis firman Allah di atas, maka dapat kita ketahui bahwa maksud yang terkandung di dalamnya adalah perintah untuk mengingat-Nya, sebab kalimat  “Tiada Tuhan selain Allah”, bermakna tidak ada yang boleh diingat selain Allah. Firman Allah pada surat al-A’la ayat 15: “Dan mengingat Tuhannya”. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban yang kedua bagi manusia adalah mengingat Tuhannya.
            Ketiga, pada bagian akhir surat Thaha Allah berfirman: “Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. Bila kita analisis pada ayat di atas bahwa printah sembah datang setelah terlebih dahulu Allah memerintahkan untuk mengenal dan mengingatnya. Perintah sembah tersebut diwujudkan dengan mendirikan shalat yang tujuannya adalah untuk mengingat-Nya. Firman Allah tersebut senada dengan firman Allah pada surat al-A’la ayat 15: “Maka dirikanlah shlalat”. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kedua ayat tersebut sama-sama mengindikasikan bahwa shalat merupakan kewajiban ketiga.
            Dari penjelasan di atas dapatlah kita ketahui mengapa para sufi menaruh perhatian besar terhadap hati (qalb) dan menempatkan shalat sebagai kewajiban ketiga. Karena sesungguhnya perintah shalat itu diterima setelah terlebih dahulu Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad sebelum ia menghadap Allah. Sebab Allah itu tidak dapat dilihat oleh mata kepala Nabi Muhammad tetapi hanya dapat dilihat oleh mata hati Nabi Muhammad. Oleh sebab itu sebelum Nabi Muhammad berjumpa dengan Allah, terlebih dahulu Jibril mensucikan hatinya, agar nur yang ada di dalam mata hatinya itu dapat memancar, sebab dengan nur itulah Nabi Muhammad dapat menyaksikan Allah. Itulah sebabnya di dalam surah al-Isra’ ayat 1 Allah menggunakan kalimat Maha Suci, sebab Allah itu Maha Suci dan hanya dapat dilihat oleh hamba-hamba-Nya apabila mereka telah mensucikan hati mereka.
            Adapun makna Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad menurut Syekh Muda Ahmad Arifin pada hakikatnya adalah sesungguhnya Malaikat Jibril menyampaikan pengenalan kepada Allah dalam istilah ilmu tarekat lazim disebut dengan bai’at. Praktik bai’at yang diterima oleh Nabi dari gurunya Malaikat Jibril diteruskan kepada Ali ibn Abi Thalib dan praktik seperti ini terus berlanjut dari guru ke murid dalam rangkaian silsilah hingga saat ini. Praktik bai’at yang diterapkan di kalangan ahli tarekat sesungguhnya mengacu pada pola yang dilaksanakan oleh Nabi. Jadi berdasarkan tradisi bai’at inilah muncul istilah bahwa “Barangsiapa yang tidak mempunyai syekh maka gurunya adalah setan”sebab Nabi sendiri tidak dapat mengenal Allah tanpa berguru kepada Malaikat Jibril, apalagi kita sebagai manusia biasa yang hina dan dhaif yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa di sisi Allah maka mustahil dapat mengenal Allah tanpa guru. Oleh sebab itu Nabi bersabda:
اَلْعِلْمُ عِلْمَانِ فَعِلْمُ بَطِنِ فِى قَلْبِى فَذَالِكَ هُوَ نَفِعِى
“ilmu itu ada dua macam, adapun ilmu batin yang di dalam hati itu jauh lebih bermanfaat”.
            Dari penjelasan Hadis di atas dapatlah kita ketahui bahwa tidak hanya para sufi yang menaruh perhatian besar terhadap hati, bahkan Nabi sendiri lewat Hadisnya secara tegas menyatakan keutamaan ilmu hatilah manusia dapat mengenal Allah.
            Menurut Syekh Ahmad Arifin kekeliruan umat Islam saat ini adalah tidak mau mempelajari ilmu hati dan lebih mengutamakan ilmu syari’at. Oleh sebab itu menurutnya mayoritas umat Islam saat ini tidak mengenal yang mereka sembah dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah:
فَوَيْلٌ لِلْقَسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ أُلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنٍ
“Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. 39 az-Zumar: 22)
            Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat-Nya, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka dapat diterima oleh Allah SWT, karena merasa bahwa tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya orang-orang yang bertauhid si sisi Allah adalah orang-orang yang telah mempelajari ilmu hati. Sebab hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita baru dapat mengenal Allah. Jadi sesungguhnya orang-orang yang tidak mempelajari ilmu hati adalah orang-orang yang bertauhid di sisi manusia tetapi sesungguhnya kafir di sisi Allah, sebab tauhid mereka hanya di lidah, namun hatinya tidak pernah menyaksikan Allah. Mereka menganggap bahwa dengan mengucap dua kalimah syahadat dan percaya dalam hati berarti telah Islam dan beriman di sisi Allah. Padahal keislaman dan keimanan mereka itu barulah sebatas percaya kepada Allah. Oleh sebab itu orang-orang yang mengabaikan atau tidak mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat) sesungguhnya adalah orang-orang yang mengabaikan tauhid.

            Dari uraian di atas dapatlah kita ketahui betapa pentingnya mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat). Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu tauhid yang sesungguhnya adalah dengan mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat).


"Boleh kata air laut bisa habis jika ada yang membutuhkan,,
tp lain dengan ilmu, semakin banyak yang membutuhkan malah akan semakin banyak ilmu itu datang."

Sabtu, 03 Agustus 2013

PERKEMBANGAN DAN PEMIKIRAN FIQIH_

http://adehumaidi.com/pendidikan/aspek-pemikiran-islam-bidang-fiqih-oleh-thoat-haryanto-s-pdi






    Ada pendapat yang menyebutkan bahwa fase sesudah Khulafaur Rasyidin merupakan fase sahabat kecil dan fase tabi’in (dinasti Umayyah sampai akhir abad I hijry).  Tetapi dari beberapa literatur sejarah kecil dan sejarah tabi’in, periode tersebut tidak dimasukkan sebagai periode  tersendiri melainkan menjadi bagian yang erat sebagai satu kesatuan dengan periode sahabat sampai datangnya zaman renaissance hukum Islam.  Dinamika pemikiran hukum Islam mencapai masa keemasan setelah runtuhnya Daulah Bani Umayyah. Munculnya daulah Bani Abbasiyah memberikan angin segar bagi perkembangan hukum Islam karena perhatian para khalifah yang begitu tinggi. Inilah yang kemudian menjadikan hukum Islam berkembang dengan dinamis. Pada masa ini, lahir para pakar hukum Islam dengan sumbangan-sumbangan pemikiaran mereka yang berharga dalam sejarah perkembangan pemikiran hukum Islam.
Pada masa Khulafaur Rasyidin, prinsip-prinsip ijma’ dalam fiqih berkembang dan ijtihad menjadi prinsip independen fiqih. Setelah itu muncul prinsip Madzhab yang pada dasarnya merupakan faham masing-masing khalifah. Istilah madzhab sebenarnya dapat di runtut dari dimensi evolutifnya semenjak masa Nabi Muhammad saw yang pada masa itu Nabi Muhammad saw adalah sumber otoritatif  hukum Islam. Segala hal yang berkaitan dengan wahyu, interpretasi dan respon terhadap berbagai persoalan, dikembalikan  kepada al-Qur’an dan Nabi.
Dinamika sosial politik memiliki pengaruh luas, termasuk dalam perkembangan pemaknaanmadzhab.  Pada masa awal periode Umayyah, ulama fiqih terbagi ke dalam dua aliran; ahlul ra’yu dan ahlul hadits. Dua madzhab ini berkembang dan menjadi titik awal bagi perkembangan madzhab pada masa berikutnya. Dua madzhab ini kemudian berkembang menjadi beberapa madzhab baru, terutama setelah perubahan system pemerintahan Islam. Pada system baru (monarki), pemimpin tidak lagi menjadi rujukan madzhab. Perkembangan madzhab semakin pesat seiring penyebaran utama kewilayah Islam yang semakin luas.
Berikut ini adalah beberapa madzhab fiqih yang berkembang dalam islam.
1.      Madzhab Ja’fariyah
Pendiri madzhab ini adalah Imam Ja’far Ash-Shiddiq (80-146 H / 699-765 M). Nama aslinya Ja’far bin Muhammad al-Baqir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Ibunya masih keturunan Abu Bakar as-Shiddiq, yakni Ummu Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar As-Shiddiq. Dalam doktrin Syi’ah, beliau adalah imam ke IV. Beliau merupakan ilmuan tertemuka, banyak bidang keilmuan yang ia geluti, diantaranya fiqh, filsafat, tasawuf, kimia dan kedokteran. Dalam ilmu tasawuf, beliau mendapat maqomat yang tinggi sebagai guru syeikh dan penemu tarekat, bahkan tarekat yang berkembang di Indonesia (Naqsabandiyah/Qodariyyah/Samaniyah, dll) seringkali menyebut namanya untuk melakukan ritual tasawuf. Muridnya yang paling terkemuka adalah Jabir bin Hayyan, seorang ahli kimia dan kedokteran.
Menurut madzhab ini, yang menjadi sumber tasyri’ pada madzhab Ja’fari adalah al-Qur’an, sunnah, Ijma’ dan akal. Orang yang dapat meriwayatkan sunnah hanya terbatas pada periwayatan yang dilakukan oleh ahlul bait saja, sedangkan yang menjadi objek sunnah adalah diri Nabi dan para Imam mereka. Dan yang dimaksud dengan ijma’ adalah ijma’ dikalangan mereka sendiri.
2.      Madzhab Hanafiyah
Pendiri mazhab Hanafi ialah : Nu’man bin Tsabit bin Zautha. Dilahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M. Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan : Abu Hanifah An Nu’man.
Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula Ibnu Umar. Mazhab Hanafi adalah sebagai nisbah dari nama imamnya, Abu Hanifah. Jadi mazhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak . Maka disebut juga mazhab Ahlur Ra’yi masa Tsabi’it Tabi’in.
Dalam mengistimbathkan hukum, Abu Hanifah berpegang pada al-Qur’an dan sangat berhati-hati dalam menggunakan Sunnah. Selain itu, ia banyak menggunakan qiyas, istihsan, dan urf. Menurut Manna’ al-Qatthan, Abu hanifah juga mengumpulkan hadits dalam sebuah buku yang di sebut  Musnad Abu Hanifah.
3.       Madzhab Malikiyah
Mazhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masa sesudah beliau meninggal dunia. Nama lengkap dari pendiri mazhab ini ialah : Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah. Selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik terkenal dengan imam dalam bidang hadis Rasulullah SAW.
Imam Malik belajar pada ulama-ulama Madinah. Yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri. Adapun yang menjadi gurunya dalam bidang fiqh ialah Rabi’ah bin Abdur Rahman. Imam Malik adalah imam negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.
Sumber hukum madzhab Malik adalah: al-Qur’an, sunnahIjma’ ahli Madinah, fatwa sahabat,qiyasmashlahah al-mursalahkhabar ahadistihsansadd al-zara’imura’at al-khilafmujtahidin,  istishab, dan syar’man qablana. Madzhab Maliki terbesar di maroko, al-Jazair, Mesir, Tunisi, Sudan, Spanyol, Kuait, Qatar dan Bahrain.
 4.       Madzhab  Syafi’iyyah
Mazhab ini dibangun oleh Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib. Beliau lahir di Guzah tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Mazhab yang pertama. Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah. Imam Syafi’i sanggup menghafal Al Qur-an pada usia sembilan tahun. Setelah beliau hafal Al Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir ; kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.
Mazhab Syafi’i terbagi menjadi dia berdasarka kurun waktu dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah Qaul Qadim; yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak. Dan yang kedua ialah Qaul Jadid; yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir sepindah beliau dari Irak. Keistimewaan Imam Syafi’i ialah beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah. Nama kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya ialah : Al-Umm.
Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam mengistinbat hukum syara’ adalah :  al-Qur’an, sunnah, ijma’ qiyas, istidlal. Imam Syafi’I adalah orang yang sangat gencar mengkritisi para ulama yang memakai kaidah istihsan yang tidak pada tempatnya.
 5.       Madzhab Hanabilah
Pendiri Mazhab Hambali ialah : Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H. Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain : Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrah. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam  musnadnya.
Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah: al-Qur’an hadits shahih, fatwa sahabat, hadits hasan atau dha’if dan qiyas. Alasan mendahulukan hadits dha’if dari padaqiyas adalah pernyataan beliau: “berpegang kepada hadits dha’if lebih saya sukai dari pada qiyas”. 
6.      Madzhab Zhahiriyah
Didirikan oleh Imam Daud bin Ali al-Ashbahani (202-270). Dinamakan Zhahiriyah, Karena dalam menetapkan hukum lebih cenderung berdasarkan kepada arti literal (zhahir) dari nash. Madzhab ini pernah berkembang di Spanyol sekitar abad V H yang dikembangkan oleh Ibn Hazm (wafat 456/1085M). Pada mulanya, Daud Adh-Dhahiri bermadzhab Syafi’iyyah, namun karena Imam Syafi’i berpendapat bahwa nash dapat dipahami secara tersurat dan tersirat, sedangkan menurut Daud, syari’at itu terkandung hanya dalam nash, tidak ada wilayah ra’yu (pendapat akal) dalam syari’at, maka ia keluar dari madzhab Syafi’iyyah dan mendirikan madzhab baru. Demikian juga tentang qiyas, Daud tidak menerima qiyas, sementara Syafi’I memakainya.
Menurut Daud: “Orang yang pertama menggunakan qiyas adalah Iblis”. Perlu dipahami, bahwa lahirnya aliran pemikiran fundamentalis seperti Dzahiriyah ini akibat dari derasnya arus pemikiran liberal yang dikembangkan oleh madzhab rasional, dan yang dikembangkan oleh Dzahiri sendiri adalah  Ad-Dalil

DINAMIKA PEMIKIRAN FIQIH DALAM KONTEK PERUBAHAN SOSIAL

Fiqih sebagai fakta sosial merupakan peristiwa yang bersumber dari manusia, baik sebagai perilaku pribadi maupun sebagai perilaku sebuah komunitas. Dalam perjalanan fiqih sejak lahirnya (masa Nabi) sampai sekarang ini, fiqih mengalami pergulatan yang cukup intensif seiring dengan dinamika masyarakat itu sendiri. Terjadi pergulatan paradigma pemikiran fiqih tidak dapat terlepas dari pertautan agama itu sendiri yang dipahami dan diamalkan masyarakat dan faktor eksternal sebagai kondisi yang mempengaruhi.
Menurut Azra dalam kata pengantar buku “Tarikh Tasyri’ Sejarah Pembentukan Hukum Islam” karangan Yayan  Sopyan, untuk memahami dinamika transformasi hukum Islam kedalam tatanan sosial, kita perlu lebih dahulu mengetahui hubungan antara hukum Islam dan perubahan sosial. Dengan cara ini, dapat dilihat bahwa hukum Islam tidak alergi terhadap peruahan sosial, sekaligus bisa dibangun kerangka kerja bagi upaya mengembangkan system hukum yang responsif. Dengan kerangka berfikir demikian maka statement yang dibangun adalah menanggalkan watak hukum yang cenderung berjarak dengan realitas.
Dengan hukum yang responsive, hukum Islam tidak menjadi “tuan kaum mayoritas”, tetapi sebaiknya dapat melahirkan tatanan kehidupan masyarakat yang kuat dan berkeadilan, sekaligus menghargai pluralitas dan kemanusiaan universal. Di dalam masyarakat pluralistik, transformasi hukum Islam adalah keniscayaan. Dan ini sangat mungkin, karena terdapat hamparan fleksibilitas hukum Islam, sebagaimana pernah di kembangkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnyaI’lam al-Muwaqi’in; dengan teori yang kita kenal dan sudah menjadi klasik; Ibnu Qayyim menekankan bahwa perubahan hukum erat kaitannya dengan waktu, tempat, keadaan, dan motivasi pembuat hukum.
Karena itu, tidak ada alasan melihat berbagai perubahan dan perkembangan baru sebagai “ancaman” bagi hukum Islam. Sebaliknya, perubahan dan perkembangan baru dapat merupakan modal dasar untuk mengembangkan hukum Islam secara adaptif. Dan pada gilirannya, hukum Islam dapat bermuara pada titik paling sempurna yaitu kemaslahatan manusia.
Ulama-ulama generasi terdahulu kita telah mewariskan kepada kita koleksi-koleksi buku keilmuan yang tak ternilai dari hasil ijtihad-ijtihad mereka terutama pada bidang fiqih dalam pelbagai aspek kehidupan praktis yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia di semua masa dan tempat. Berkat usaha dan jeri payah mereka ini, fiqih menjadi seperti bangunan yang besar. Fiqih Islam mengatur segala hubungan, membatasi setiap hak dan kewajiban, menjelaskan setiap hukum dan juga membahas hubungan antar hamba dan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dalam aspek sosial ekonomi, perdata dan pidana, kondisi-kondisi individu, politik kenegaraan, keuangan, administrasi dan peradilan.
Seiring perjalan waktu persoalanpun semakin komplek, dan ini tentunya  akan membutuhkan pemecaham masalah berdasarkan nilai-nilai agama. Disinilah letak betapa pentingnya rumusan ideal moral maupun formal dari fiqih tersebut, yang tidak lain bertujuan untuk menjaga keutuhan nilai ketuhanan, kemanusian dan alam, terutama yang menyangkut aspek lahiriyah kehidupan manusia di dunia. Bangunan fiqih yang besar yang telah dibangun oleh para fuqaha bukan berarti tidak memberikan ruang kepada generasi yang sesudahnya untuk melakukan pembaharuan yang sesuai dengan kontek sosial yang berkembang, bahkan sebaliknya fiqih sebagai “rambu-rambu lalu lintas” kehidupan mampu mengantarkan manusia menuju tempat yang baik bagi keberlangsungan manusia sebagi makhluk terbaik.

Minggu, 09 Juni 2013

Tabligh dan Dakwah

Aslamualaikum Wr. Wb.

Materi Agama Islam Tabligh dan Dakwah
~Galedeg. Untuk Artikel ini saya masih melanjutkan untuk membahas mengenai Materi Pendidikan Agama Islam yang sudah saya dapatkan sewaktu saya belajar di bangku SMK. Ini juga masih ad akaitanya dengan materi- materi yang sebelumnya saya posting. Oke kita langsung masuk aja ke materinya, silahkan di simak dengan seksama.....

Tabligh

    Di lihat dari akar katanya, kata Tabligh berasal dari bahasa arab yankni Ballaga- yuballigu yang artinyaMenyampaikan. Sedangkan menurut istilah Tabligh merupakan kegiatan menyampaikan ajaran- ajaran Islam yang di terima kepada umat manusia untuk di jadikan pedoman hidup sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Orang yang menyampaikan tabligh dinamakan denganMubalig dan jika perempuan disebut dengan Mubaligah. Pada awalnya kegiatan bertabligh di wajibkan kepada Rosululloh saw. hal ini seperti yang di jelaskan Allah dalam Surah Al-Maidah : 67 Yang artinya " Hai Rosul, sampaikanlah (bertablighlah)apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang di perintahkan itu, berarti) Kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang -orang yang kafir." (Q.S Al-Maidah : 67).
Tetapi seiring berjalannya waktu, tabligh di wajibkan atas setiapp umat islam dengan kemampuan dan pengetahuan yang di miliki. Hal ini seperti yang di jelaskan oleh Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125, Artinya " Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahi orang -orang yang mendapat petunjuk". (Q.S. An-Nahl :125);

    Rosululoh juga bersabda yang artinya, " Sampaikanlah olehmu apa yang pernah kalian peroleh dari aku, walaupun hanya satu ayat."(H.R. Bukhari, Tirmizi, dan Ahmad). Tablig hendaknya di mulai dari diri sendiri yakni dengan membentuk diri menjadi umat yang bernilai-nilaikan islam yang sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Karena barang siapa yang menganjurkan orang lain untuk beriman dan bertakwa sedangkan dirinya belum melaksanakan yang di perintahka tersebut maka Allah akan amat membencinya.



Dakwah

Dakwah
 berasal dari bahasa arab yakni " da'a a-yad'u " yang artinya memanggil atau menyeru. Sedangkan menurut istilah dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan syariat islam.
Orang yang menyampaikan dakwah dinamakan Dai.

      Kegiatan berdakwah merupakan kewajiban atas setiap muslim seperti yang di jelaskan Allah dalam Surah Ali Imran ayat 104. Berdakwah tidak boleh dilakukan dengan paksa karena pada hakikatnya yang memberi hidayah pada seseorang hanyalah Allah, hendaknya berdakwa dilakukan dengan " bi al-hal "yakni melalui perbuatan baik yang diridai Allah agar diteladani orang lain. Cara dakwah ini telah di laksanakan oleh Rosululloh saw. seperti yang di jelaskan Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 21  yang artinya, " Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Q.S. Al-Ahzab : 21 )

Dalam Berdakwah, seseorang Dai hendaknya menggunakan metode -metode berikut :
  • Metode Al-hikmah, yakni menyampaikan dakwah terlebih dahulu mengetahui Tujuan dan Sasaran dakwahnya.
  • Metode Al-Mua'izah al-hasanah, yakni memberikan kepuasan pada masyarakat yang menjadi objek dakwahnya dengan cara memberikan nasihat, pengajaran, dan teladan yang baik.
  • Metode Mujadalah bi al-lati biya ahsan, yakni bediskusi dengan cara -cara yang ma'ruf.

Wahhh akhirnya udah selesai niee penerangannya . Gimana udah tahu belum tentang materi Tabligh dan Dakwah ?. Semoga dengan materi ini kita bisa memperkaya penetahuan kita dan dapat berbagi dengan sesama kita pengetahuan yang telah kita pelajari. Okedeh demikian apa yang dapat saya tulis bila ada kata kata yang kurang pas atau kurang sesuai saya Mohon Maaf yang sebesar- besarnya ... Wasalamualaikum Wr. Wb.

Ketika Kesucian di Pertanyakan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kali ini saya memberikan sebuah pengertian tentang  " Ketika Kesucian di Pertanyakan ", Nyadar nga si sekarang udah banyak banget Pemuda-pemudi, Cewe-cewe yang di usia yang seharusnya dia tidak bisa menjaga sesuatu yang harus di jaga baik-baik yaitu sebuh " Kesucian". Surve membuktiakan bahwa Cowo-Cewe di usia remaja apalagi yang berada di bangku sekolah terutama SMA dan SMK sudah sekitar 70-80% Sudah tidak Suci lagi.... Wahh- wahh wahh wahh.. Itu surve yang membuktikan Loo . Gimana nieehh ?? apa sih yang salah dengan mereka???..... Saya sendiri sebagai seorang anak Mudah Benar -benar menghindari yang namanya Pergaulan Bebas.

Karna apa ....?? Itulah faktor utama mereka -meraka kehilangan kesucianya. Cobalah kalian-kalian yang memang punya sebuah masalah di rumah sehingga mengalihkannya dengan pergaulan bebas.. Mencoba untuk mengikuti Sebuah Organisasi yang bener -bener mendidik dan bisa mengalihkan perhatian kalian dari maslah yang kalian hadapi di Rumah, ataupun kalian bisa mengikuti Komunitas-komunitas yang bisa membuat kalian mengeluarkan kemampuan kalian ke arah yang positif, bukan ke arah yang negatif.

Dan mungkin ini ada sedikit Share tetang  " Ketika Keperawanan di Pertanyakan "   yang saya dapatkan dari Fanspage yang saya sukai... silahkan kalian baca dan renungkan sejenak...........

KETIKA KEPERAWANAN DI PERTANYAKAN


Wajib baca Cew & cow !!

Wanita berkata :
Kelak aku ingin mempunyai suami
yg seiman, rajin bekerja, setia, dan bertanggung
jawab. .

Hal tersebut kreteria yg umun untuk memilih
seorang imam dunia akhirat bagi wanita.
.
Sedangkan Lelaki berkata :
Aku ingin punya istri yg
cantik, cerdas, anggun,dan tentunya perawan..

Wahai Teman-teman,
apakah KEPERAWANAN ITU HAL YG
MUTLAK DALAM SEBUAH PERNIKAHAN??
APAKAH HANYA KAUM WANITA SAJA YG WAJIB
MEMPERTAHANKAN KESUCIAN DI MALAM
PENGANTIN??

KENAPA LELAKI TDK DI WAJIBKAN MENJAGA
KESUCIAN??
Sesungguhnya pacaran adalah suatu yg
merugikan bagi kaum wanita..

Bagaimana tidak??
Ketika sang kekasih berkata :
 APAKAH
ENGKAU MENCINTAIKU? JIKA CINTA MAU KAH
ENGKAU BERKORBAN UNTUK KU??
Dan biasanya hati wanita akan lemah dan berkata :
"TENTU SAJA AKU MENCINTAIMU , AKAN
KULAKUKAN APAPUN UNTUK MEMBUKTIKAN
RASA CINTAKU"

(inilah awal bencana)
Dalam berpacaran biasanya akan memilih tempat
yg sepi.. Syaitan akan menjerumuskan manusia
kejurang yg paling hina dan terhina hingga hingga
dalam usia muda sudah ternoda, terluka,
tercampakan, dan terhinakan.

Ketika semua telah terjadi, maka ketakutan dan
penyesalan terlambat sudah. Dengan penuh rasa
tanggung jawab palsu seorang lelaki akan berkata
bahwa ia akan mempertanggung jawabkan
perbuatannya dan kelak akan menikahimu.

Kelak???
Tapi JIKA TERNYATA DIA BUKAN JODOHMU??
KESUCIAN TELAH HILANG, BUNGA TELAH LAYU.
LALU APAKAH YG BISA WANITA BANGGAKAN??
Jadilah wanita seperti bunga mawar, yg indah di
pandang namun sulit terjamah.

Duhai lelaki :
JIKA ENGKAU MEMIMPIKAN WANITA
YG BERSIH DAN SUCI, MAKA JAGALAH DULU
KEHORMATANMU, KARENA SANGAT TDK ADIL
JIKA KALIAN MENGINGINKAN KESUCIAN WANITA,
SEDANGKAN ENGKAU SENDIRI TELAH SANGAT TERHINA

YANG SETUJU LANJUTKAN !!

3 Kata Terlarang Yang Harus Dihindari

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dalam Kehidupan | Pernahkah kalian merasakan aura sebuah KATA yang kalian ucapkan menjadi sebuah kenyataan, Heemm ane yaa kata-kata yang kita ucapkan dengan sepele atau dengan berjanda, menjadi sebuah kenyataan yang membuat kita terpuruk di dalamnya. Kalo itu baik itu baguss tapi kalo itu Jelek wah nga bisa di bayangin dehh..

Dari banyak Kata-kata yang sering kira ucapkan setiap hari pasti kita lakukan dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja. kalian tau nga si !!! Setiap perkataan yang kita ucapkan adalah Doa. Jadi kalo kalian mengatakan kepada diri kalian sebuah kata yang tak sengaja di ucapkan Semisal "Saya Tidak Bisa" maka apa yang terjadi pada kalian. Pasti kalian akan mempercayai kata itu ketimbang dengan kemampuan yang kalian miliki. Alhasil jadinya apa yang sedang kalian lakukan akan seperti apa yang kalian omongkan. 

Jadi hati-hati lah dalam berkata !!!! Nahh berikut adalah 3 Kata Terlarang Yang Harus Dihindari oleh kalian. Apa aja .. simak dehh biar nanti kalian lebih bersemangat dalam menjalani hidup ini ... Jayoo


1. SAYA TIDAK BISA (I Can't)

Ketika Anda berkata "Saya Tidak Bisa", maka pintu pikiran Anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba. Sebaliknya jika Anda berkata "Saya Bisa" ini masih membuat otak Kita bekerja mencari jalan.

2. TIDAK MUNGKIN (Impossible)

Orang-orang yang sering berkata "Tidak Mungkin" akan menutup berbagai pintu keajaiban,denga n sikap seperti ini mereka akan sulit meraih sesuatu yang hebat, karena hampir segala sesuatu yang Kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin, selalu ada jalan setiap hari, bagi Orang yang percaya.

3. SAYA SUDAH TAHU. (I Know)

Setiap kali Anda mengucapkan bahwa "Saya Sudah Tahu", sebenarnya Anda sedang menutup pintu pembelajaran. Sehingga Kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru, padahal dalam kehidupan selalu ada hal baru yang dapat Kita pelajari.


Inggwt ingget tuh kata yaa... Jangan sampai ada 1 kata di atas yang kalian ucapkan dalam kehidupan kalian. Pasti efeknya nga baik dehh.. Percaya!!!

Senin, 04 Februari 2013

☆ Makna dari Jari-Jari Kita ☆

☆。★。☆。★
Pernah gak kepikir, kenapa jari-jari kita ini bentuknya berbeda-beda,,??
Serta kalau di perhatikan secara terpisah, bentuk serta fungsinya berbeda-beda.

1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.

2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.

3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.

4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.

5. Ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?).

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai tujuan (menulis, memegang, menolong anggota tubuh yg lain, melakukan pekerjaan, dll).

Pernah suatu hari saat kecil saya bertengkar dengan adik saya.
Dengan menunjukan jari telunjuk ke muka adik saya dan berkata ''kamu monyet'' dan saya di tegur oleh papa saya bahwa hal tersebut tidak boleh di lakukan.

Beliau mengatakan ''tidakkah kamu ketahui 1 jari telunjuk di hadapkan kepada adikmu dan 1 jari itu mengatakan adikmu ''monyet'', tapi lihat kemana 4 jari lainnya mengarah,??''

Jadi, saat kita mengacungkan 1 jari telunjuk kepada orang lain dengan memaki, maka secara tidak langsung kita 4x lipat memaki diri kita sendiri.

Kita diciptakan dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu, saling menyayangi, saling menolong, saling membantu, saling mengisi, bukan untuk saling menuduh, menunjuk, merusak, dan bahkan membunuh.

☆ Semoga Bermanfaat ☆

Sabtu, 02 Februari 2013

6 KUNCI MENDAPAT KETENANGAN HATI


--~~~~** **~~~~--

Sahabatku ada 6 tips mudah untuk mendapatkan ketenangan hati semoga bermanfaat :

1. Jangan tergantung terhadap orang lain, bersikaplah mandiri
dan percaya akan kemampuan yang kita miliki.

2. Jangan berburuk sangka, berfikirlah positif akan membawa pada suatu yang bermanfaat.

3. Jangan mengingat penyesalan di masa lalu, hidup itu mudah, buatlah dalam suatu perbuatan kita dengan keputusan dan jadikan masa lalu menjadi sebuah pelajaran untuk menjadi yang lebih baik.

4. Jangan pernah menyimpan dendam di hati, dendam itu diibaratkan sebagai racun dalam hati kita, jauhi itu.

5. Jauhi sifat terburu-buru, aset dalam kehidupan bukan harta, tapi waktu. Maka pergunakan waktu dengan baik.

6. Jangan khawatir dengan hari esok, ketuklah pintu dan pintu pun akan terbuka, ingatlah ALLAH, ALLAH pun akan ingat pada kita.
 —